Konnichiwa minnasan,
Untuk artikel kali ini author akan membahas tentang budaya pernikahan di jepang dan beberapa cara atau upaya yang dilakukan oleh perorangan atau pemerintah untuk mendapatkan calon pasangan. Hah pemerintah? Kobisa? Tentu saja Negara jepang adalah Negara yang masyarakatnya senang bekerja, saat ini populasi orang tua meningkat dan anak kecil semakin menurun. salah satu faktornya adalah kebanyakan wanita di jepang sangat menjunjung tinggi feminisme. Maka dari itu kecilnya angka kelahiran dan membeludaknya angka kematian.akibatnya semakin sedikit usia produktif kerja karena tidak ada generasi penerus bahkan tidak sedikit orang asing yang bekerja di jepang. Itulah mengapa pemerintah ikut mendukung dalam mengembangkan penyelenggaraan acara perjodohan dengan tujuan agar masyarakatnya bisa segera menikah. Nah berikut ini author akan menjelaskan secara singkat upacara pernikahan dan beberapa cara yang dilakukan orang jepang untuk mendapatkan pasangan.
Omiai itu apa sih? Secara harfiah omiai お見合いberarti melihat satu sama lain. Hal ini dapat dilihat dari 2 karakter kanji yang membentuknya yaitu karakter 見 mi melihat dan 合い ai bertemu. Sehingga secara umum omiai dapat diartikan sebagai pertemuan antara wanita dan pria untuk menciptakan suatu hubungan. Omiai biasanya dilakukan oleh seseorang yang sudah mapan biasanya 30 keatas untuk pria dan 28 ke atas untuk wanita. Dijepang usia tersebut merupakan usia yang pas untuk menikah. Omiai juga ada 2 cara yang pertama di bantu oleh suatu lembaga,agensi atau perusahaan yang menyediakan omiai yang kedua pihak keluarga memilihkan calon pasangan untuk anaknya mungkin kalo di Indonesia seperti taaruf ^^
Tujuan goukon tidak terbatas hanya untuk mencari pasangan untuk menjalin hubungan hingga menikah. Goukon juga dapat menjadi sarana untuk mencari pertemanan. Dalam goukon, sepasang teman wanita dan pria akan merencanakan sebuah pertemuan yang dihadiri oleh teman-teman mereka. Jumlah pesertanya harus genap antara pria dan wanita. Pengatur acara, biasa disebut kanji (koto), menentukan waktu, tempat dan urutan acara selama goukon berlangsung. Kemudian, mereka akan mengundang teman-temannya untuk hadir. Biasanya, acara ini berlangsung di kafe, restoran, atau tempat karaoke.
Selama goukon berlangsung, pria dan wanita akan duduk berhadap-hadapan, lalu sambil menikmati makanan atau mengobrol, mereka akan mendiskusikan lawan jenis mana yang paling menarik minat mereka. Sebelum tren ponsel menyebar, para wanita akan saling berbisik pada temannya. Namun sekarang mereka cukup mengetik pada ponselnya dan menunjukkan pada temannya. Untuk lebih mengenal satu sama lain dan mengurangi kecanggungan di antara peserta, biasanya diadakan game.Sayangnya, karena goukon tidak bersifat formal seperti omiai, terkadang peserta dapat membatalkan perjanjian dengan mudah, bahkan di hari yang sudah ditetapkan. Meskipun demikian, kanji akan mencari pengganti peserta yang mengundurkan diri, sehingga goukon tetap dapat berjalan.
3. Machikon
Machikon, berasal dari kata "machi" yang berarti kota, adalah acara kencan buta dalam skala kota. Machikon dilaksanakan sejak kurang lebih 12 tahun yang lalu. Berbeda dengan goukon, machikon diselenggarakan oleh penyedia jasa profesional dengan banyak peserta. Dalam machikon, penyelenggara telah menyiapkan serangkaian acara, termasuk game, untuk lebih mengakrabkan sesama peserta. Kadang ditetapkan kapasitas maksimal untuk machikon, dan peserta perlu mendaftar sebelumnya. Machikon digarap cukup serius, bahkan sampai mendapatkan modal dari pemerintah untuk melaksanakan acara tersebut.
Menteri Shinzo Abe menyisihkan 3 milyar yen (Rp.335 milyar) pada anggaran fiskal untuk mengadakan machikon di seluruh Jepang. Kemudian, acara ini diselenggarakan oleh pemerintah lokal. Pemerintah pusat memberikan dana hingga 40 juta yen (Rp4,4 miliar) untuk proyek-proyek meningkatkan pernikahan dan kelahiran, termasuk acara perjodohan. Peserta akan diberikan kartu tanda kencan dan nomor kursi yang akan menentukan dengan siapa mereka akan berkencan. Di restoran, mereka duduk bersama lawan jenis dan menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit hingga satu jam dalam satu meja yang sama sebagai grup. Setelah itu, mereka bebas pergi kemana saja bersosialisasi dengan peserta dari grup lain.
Yang terakhir adalah konkatsu party, ini adalah bentuk dari semua upaya di ats omia,goukon, dan machikon namun lebih sederhana dan lebih berkelas .Biaya untuk mengikuti konkatsu tergantung pada tujuan paritisipannya dalam mengikuti konkatsu party. Misalnya jika seseorang mengikuti konkatsu party untuk sekedar mencari pacar maka tidak terlalu memakan biaya. Sebaliknya, jika seseorang mengikuti acara untuk tujuan mencari pasangan hidup (menikah), maka biaya yang dikeluarkan cukup tinggi. Semakin tinggi biaya semakin serius hubungan yang dicari.
Pada konkatsu party, setiap partisipan bebas membicarakan tipe pasangan yang dicarinya, berapa penghasilannya, atau pembicaraan pribadi lainnya. Partisipan juga berhak menolak sesama partisipan yang hadir. Pada akhir acara, formulir mengenai data diri yang diisi partisipan sebelumnya akan diserahkan kepada pasangannya.
Hallo readers setia jangan lupa untuk comment dan like ya ^^ setidaknya meninggalkan jejak bahwa kalian sudah membaca artikel ini. silahkan mengisi kritik dan saran yang bersifat membangun untuk memotivasi author jadilah reader yang bijak jangan menjadi silent reader. Doumo arigatou gozaimashita J
STBA YAPARI-ABA BANDUNG
UU ITE





No comments:
Post a Comment